Join for FREE | Take the Tour Lost Password?
[x]

deviantART

 
About Me Member Deviously Deviant bigmorning19/Male/Indonesia Recent Activity Deviant for 1 Year
Needs Premium Membership
Statistics 2 Deviations
2 Comments
197 Pageviews

Favourites

No favourites yet.

Watchers

PARALEL

Sat Jul 4, 2009, 6:13 AM
Distorsi

Pria tersentak saat ia merasakan getar di dalam kantong celananya.
Saat itu ia sedang tertidur di dalam kereta kelas ekonomi jurusan kota-bogor. Tangannya masuk tenggelam dalam-dalam ke kantong celananya, mencoba meraih handphone-nya. Saat itu hampir pukul 2 siang. Kereta yang sedang ia naiki baru saja beranjak dari stasiun cawang. Ia menjawab panggilan masuk tersebut.
“Hallo. Ini siapa ?” tanya Pria dengan kesadaran yang masih belum sepenuhnya.
“Kamu dimana ? Saya udah tunggu kamu dua jam di Manggarai.” Jawab penelpon yang ternyata seorang wanita.
“Saya di kereta, mau pulang kerumah. Ini siapa ?” tanya balik Pria, ia bingung.
“Saya Mbak Gadis. Kamu janji mau kembaliin barang yang tertukar sama kamu.”
“Barang apa ? Tapi saya ngga kenal kamu.”
“Handphone kamu tertukar dengan obat asma anak saya.”
“Maaf ?!”
“Tadi kamu janji mau mengantarnya. Saya sekarang sudah di Stasiun Manggarai.”
“Saya ngga ngerti. Mungkin Mbak salah orang.” Tanggap Pria yang semakin bingung.
“Tolong, Mas ! Saya ngga punya uang buat beli yang baru. Tanpa alat itu anak saya bisa ngga tertolong. Saya takut asma-nya kambuh.” bentak Gadis.
“Hei-hei !!! Tunggu ! Kamu jelasin dulu. Saya bener-bener ngga ngerti apa-apa. Kamu bikin saya bingung.”
“Anak saya menukarnya waktu di kereta. Waktu kamu turun di Stasiun Cikini ?”
“Tapi sekarang saya masih di Cawang. Belum juga sampai Cikini.” Jawab Pria tegas. Ia merasa ada sebuah kesalahpahaman besar yang sedang melingkarinya.
“Tolong, Mas. Jangan bercanda. Saya minta tolong.”
“Maaf, Mbak. Kayaknya mbak salah sambung.” Pria menutup telepon itu. Ia berfikir bahwa telepon tersebut adalah panggilan salah sambung. Ia kembali menyandarkan tubuhnya pada kursi plastik yang berjejer sepanjang gerbong. Mencoba untuk kembali tidur.
Laju kereta perlahan melambat, keretanya tiba di Stasiun Tebet. Ia sempat membuka sedikit matanya dan melihat keadaan stasiun di luar, kemudian kembali memejamkan matanya, membiarkan urat-urat dikelopak matanya meregang dan santai.
Ia bisa mendengar suara hak sepatu yang berbenturan dengan lantai gerbong yang terbuat dari besi. Cukup banyak penumpang yang naik dan turun. Tubuhnya tersenggol oleh tubuh kecil yang melompat ke atas kursi di sampingnya.
Bocah lelaki berumur 7 tahun itu melompat-lompat girang di atas kursi. Beberapa kali tubuhnya menyenggol Pria yang sedang berusaha untuk tidur. Pria menegakkan tubuhnya, mengurungkan niatnya untuk tidur. Ia menatap anak kecil yang sedang berdiri disebelahnya. Wajahnya terlihat sangat riang walaupun rambut dan lehernya basah dengan keringat.
Seorang perempuan yang berada disamping anak tersebut mengeluarkan selembar handuk dan mengelap wajah anak tersebut. “Kamu jangan terlalu capek, Nak.” Pesan Ibu anak tersebut.
Anak tersebut tidak menjawab apa-apa. Mulutnya hanya megap-megap mencoba menangkap angin yang berhembus kencang di jendela. Terus bermain-main.
Tiba-tiba lompatan anak kecil tersebut terhenti. Perlahan keadaannya menjadi tidak keruan dan tidak stabil. Dadanya naik turun, seperti ikan kehabisan air. Tangan kecilnya menggapai pangkal lengan ibunya.
Ibunya dengan cepat mengeluarkan sebuah benda berukuran slinder dari tasnya dan dengan cepat ditempelkan di mulut anak kecil tersebut. Sedikit demi sedikit nafasnya mulai teratur.
Pria tercengang. Matanya tidak mempercayai apa yang ia lihat. Ia mengingat apa yang dikatakan penelepon yang baru saja berbicara dengannya. Matanya kembali menatap anak kecil yang sudah pulih disampingnya. Bocah lelaki itu tersandar lemas. Ia terlihat lemas dan gantuk.
Ibu anak lelaki tersebut mengeluarkan handphone dari dalam tas, dan menghubungi seseorang. “Mas, Gadis sudah mau sampai. Putra asmanya baru aja kambuh lagi. Untung saya sempat mampir ke apotik buat beli obatnya.”
Ibu tersebut tediam, mendengarkan seseorang yang sedang berbicara di speakerphone, “Sekarang saya sudah mau sampai Cawang.”

Anak lelaki, asma, dan Gadis. Tiga hal itu memenuhi isi kepala Pria. Tidak mungkin. Duganya meragukan apa yang sedang ia alami. Ia mengeluarkan handphone dari kantong celananya. Ia ingin menelepon balik nomor yang baru saja menghubunginya.
Ia menempelkan handphone di kupingnya. Terdengar nada sambung. Mata Pria terbelalak lebar saat getar kembali terasa di kantong celana yang lainnya. Satu handphone lain miliknya, CDMA. Ia melihat LCD yang berkedip-kedip.
Panggilan masuk tersebut berasal dari handphone GSM yang sedang ia gunakan untuk menelepon Gadis. Ia memutuskan panggilan, dan kembali melakukannya lagi. Memastikan apa yang sedang terjadi padanya.
Handphone yang digunakan Gadis tadi untuk menghubunginya adalah handphone miliknya. Handphone CDMA yang sejak tadi berada di kantong lain celananya. Bagaimana mungkin ?!
Dengan wajah yang masih memasang ekspresi heran, Pria memasukkan handphone-nya kedalam tas yang berada dipangkuannya. Ia menatap anak kecil dan Ibu yang ia yakini bernama Gadis di sampingnya. Mengamatinya lama dan seksama. Pria melamun.

Kereta melambat, memasuki Stasiun Cikini.
Ia beranjak bangun. Ia akan turun di stasiun Cikini. Ia menatap Gadis dan putra, Seharusnya mereka berdua turun di Stasiun Manggarai? Pikir Pria sudah berdiri di depan pintu.
Kereta berhenti ia berjalan keluar gerbong. Ia masih terus mengamati Putra dan Gadis yang duduk di dalam kereta. Ia masih terdiam, menunggu apa yang selanjutnya akan terjadi.
Handphonenya kembali bergetar.
Pria tidak langsung menjawab, ia melihat nomor yang tertera di LCD hp-nya. Itu nomor hp miliknya yang seharusnya berada di dalam tas. Dengan cepat ia memeriksa, nihil. Ia tidak menemukan hp CDMA yang baru beberapa menit lalu ia masukkan kedalam tas. Tangannya yang sedang mengacak-acak isi tas merasakan sesuatu. Ada sebuah benda slinder. Obat asma.
Ia langsung menjawab telepon tersebut.
“Saya minta tolong !!!” teriakkan histeris terdengar dari speaker hp Pria. Suara Gadis. “Saya benar-benar butuh obat itu.”
“Iya, iya. Sekarang Mbak dimana ?” tanya Pria memutuskan untuk ikut dalam permainan yang menjebaknya.
“Saya di Stasiun Manggarai. Saya sudah bilang tadi, saya di Stasiun Manggarai.”
“Ngga mungkin. Baru aja saya lihat ibu naik kereta ke arah kota. Kenapa sekarang sudah ada di Manggarai ?” tanya Pria. Ia merasa yakin dengan apa yang ia lihat barusan.
“Saya juga lihat kamu. Tiga jam yang lalu.”
“Tapi—Saya baru satu menit yang lalu lihat, Mbak.”
“Kamu lihat saya dimana ?”
“Di kereta. Baru aja kereta Mbak jalan dari Stasiun Cikini.” Jelas Pria.
“ITU TIGA JAM YANG LALU ! Sekarang udah jam 6 sore. Kereta ke Yogya tinggal 15 menit lagi. Kami ngga bisa pergi tanpa obat asma itu, Mas.”
“Sekarang baru jam 3, Mbak.” Jawab Pria melihat jam di tangannya.
“Jangan bercanda. Saya tahu ini kesalahan anak saya. Tapi kamu juga tolong mengerti keadaan saya. Putra saya butuh obat itu.”
Terdengar dari jauh suara gemuruh kereta api dari arah yang berlawanan tiba. Kereta itu akan berhenti di Stasiun Manggarai.
Dengan cepat Pria bergegas lari menuruni tangga dan menyebrang ke peron yang berada di seberang. Ia akan kembali ke Stasiun Manggarai dalam waktu 10 menit dengan kereta tersebut. Dan semuanya akan selesai.
Ia melompati dua anak tangga sekaligus, sampai akhirnya tiba di peron. Kereta menuju Stasiun Manggarai hampir meninggalkanya. Pria dengan cepat mengejar kereta yang mulai menaikkan lajunya setelah berhenti sebentar menaikkan penumpang. Ia berhasil melompat masuk ke dalam gerbong kereta api.

Hanya 5 menit.
Pria sudah tiba di Stasiun Manggarai. Ia langsung menghambur keluar gerbong dan mencari penampakan Putra dan Gadis yang masih sangat ia hapal. Matanya menyisir sepanjang Stasiun Manggarai. Ia memutuskan untuk menelepon Gadis. Ia menghubungi hp miliknya yang sekarang berada di tangan Gadis.
“Hallo.” Bukan suara Gadis, suara seorang anak kecil.
“Hallo.” Sahut Pria.
“Maaf ini siapa ?” tanya Gadis yang langsung merebut hp dari Putra.
“Gadis ?” tanya Pria.
“Iya. Maaf mungkin anak saya ngga sengaja menukar hp ini. Ini bukan milik saya.”
“Iya, iya. Hp itu punya saya.”
;Punya kamu ?” tanya Gadis.
“Iya. Putra menukar obat asma dengan hp dari tas saya.”
“Ya ampun. Maaf. Dimana kita bisa ketemu ? Putra sangat butuh barang itu.”
“Saya sudah di Stasiun Manggarai. Katanya Mbak mau kita ketemu di sini ?”
“Saya sekarang masih di Stasiun Kota. Mau jemput ayahnya Putra.”
“Katanya Mbak sudah di Stasiun Manggarai ?”
“Saya baru aja sampai di Satsiun Kota. Kamu yang tadi duduk di sebelah anak saya, yah?”
Pria melongo. Kepalanya semakin penat. Ia tidak lagi merasa waras.
“Jam 4 saya tiba di st. Manggarai. Saya minta kamu tunggu saya di sana. Anak saya sangat butuh obat itu.”
“Jam 4 ?” Pria mengonfirmasi.
“Iya. Jam 4.”
“Satu jam dari sekarang ?”
“Iya.”
“Di tempat Mbak sekarang pukul 3 ?”
“Iya.”
“Baiklah.” Pria memutuskan untuk menunggu Putra dan Gadis, untuk menyelesaikan permainan waktu tersebut.
Waktu terasa cepat. Tepat pukul 4, kereta api dari Stasiun Kota tiba di Stasiun Manggarai. Pria dan Gadis berjanjian untuk saling bertemu di peron tengah Stasiun Manggarai.
“Ini obatnya, Mbak.” Pria menyodorkan benda berbentuk slinder tersebut yang ia keluarkan dari tasnya.
“Terima kasih, Mas.” Jawab Gadis yang juga menyodorkan hp milik Pria.
“Ayahnya putra mana, Mbak ?” tanya Pria dengan nada akrab.
“Ke loket. Sebentar lagi kereta kita datang. Kita mau mudik.”
“Keretanya jam berapa, Mbak ?”
“Jam 4 lewat.”
“Santai aja, Mbak. Keretanya mogok. Baru sampai nanti jam 6 lewat.”
“Tahu dari mana kamu ?” tanya Gadis.
Pria mengangkat bahunya.
Tidak lama kemudian terdengar pengeras suara di Stasiun Manggarai yang memberitahukan bahwa kereta menuju Yogyakarta mengalami kemunduran sampai pukul 18.15.
“Kok kamu bisa tahu ?” tanya Gadis dengan heran.
“Saya tahu dari—“ jawaban Pria terpotong oleh panggilan masuk di handphonenya. Ia menjawab panggilan tersebut.
“Kamu dimana ? Kereta saya sudah datang. Lima menit lagi kami berangkat ke Yogya. Saya minta tolong sekali. Anak saya butuh obat itu !” Suara tersebut terdengar terisak-isak.
Pria menatap LCD handphonenya. Panggilan itu dari handphone CDMA yang sedang ia pegang di tangan lainnya. Ia membalikkan badan, memastikan Gadis dan Putra ada di belakangnya.
Pria menekan tombol merah di handphonenya. “Cukup !”

  • Mood: Fear
  • Listening to: JAMES BLUNT
  • Reading: dan brown
  • Watching: -
  • Playing: burger rush
  • Eating: emping
  • Drinking: teh manis

deviantID

No deviantID yet.

Devious Info

    deviantART Community Board

    [x]

    Comments


    :iconcuruth:
    heii agung.
    senang berjumpa dengan anda...
    :iconbigmorning:
    sama-sama boii. mantab dah liat krya lw. merinding. hhe.
    :iconcuruth:
    auuuuuuuuu.....
    hahaha// merinding kyak ngeliat setan doung... hehe..
    :iconbigmorning:
    bukan merinding yang itu maksud gw. hajuhhh. kumaha yeh si wega.
    :iconcuruth:
    oww...
    itu cerita tentang gadis kereta yang sering diceritain tari ke 9w toch..
    nice story gung.. ntar 9w bikin komik juga nich lama2.. kocak kali yah..//

    Site Map